Matoh Band dan Pecinta Koes Plus Meriahkan Malam Nostalgia di Café Sepor Babat Lamongan

Babat, iNewsTuban.id – Hujan rintik-rintik mengguyur kota Wingko, Babat, Kabupaten Lamongan, tak menyurutkan semangat para pecinta lagu-lagu Koes Plus untuk berkumpul dan bernostalgia, di Café Sepor, Jl Stasiun Babat, Lamongan.
Pecinta lagu-lagu Koes Plus dari berbagai kota sekitar Lamongan, mereka datang memenuhi Cafe Sepor yang menjadi tempat berlangsungnya acara malam nostalgia.
Tak hanya menikmati jajanan khas Babat yang menggugah selera, para penggemar juga larut dalam lantunan tembang dari band legendaris asal Tuban, Koes Plus.
Malam itu semakin spesial dengan kehadiran Matoh Band, grup musik dari kota kelahiran Koes Plus, yang membawakan deretan lagu-lagu legendaris dengan penuh penghayatan.
Acara ini menjadi ajang silaturahmi sekaligus wujud kecintaan para penggemar terhadap karya-karya Koes Plus, yang tetap abadi dihati pecinta musik lintas generasi
Salah satu pengunjung acara musik di Tuban, Bambang Prijohutomo, mengaku sebagai penggemar setia Koes Plus sejak duduk di bangku SMA pada era 1980-an. Ia mengatakan bahwa lagu-lagu dari band legendaris tersebut memiliki makna mendalam dalam perjalanan hidupnya, dan lagu-lagunya mudah diingat.
"Semasa saya masih di bangku SMA hingga kuliah, lagu-lagu Koes Plus selalu menemani saya di meja belajar. Baginya, musik dan lirik Koes Plus bukan sekadar hiburan, tetapi juga menjadi bagian dari kenangan dan inspirasi dalam kesehariannya." ucap Bambang kepada iNewsTuban.id, Selasa (24/2/2024) malam.
Bambang menambahkan bahwa hingga saat ini, lagu-lagu Koes Plus tetap relevan. Tidak hanya dinikmati oleh generasi yang tumbuh di masanya, tetapi juga digemari oleh kaum milenial.
Menurutnya, salah satu lagu favoritnya adalah Nusantara, yang memiliki pesan cinta terhadap tanah air dan tetap enak didengar sepanjang zaman. Lagu Nusantara yang diciptakan Koes Plus dengan bersambung, membawa pesan nasionalisme terhadap Indonesia.
"Keberadaan Koes Plus sebagai ikon musik Indonesia memang tak lekang oleh waktu. Warisan musiknya terus hidup di berbagai kalangan, membuktikan bahwa karya-karya mereka tetap memiliki tempat di hati para pecinta musik lintas generasi." tuturnya
Sementara, Mohammad Sidik dari Lamongan,ia mengatakan semenjak duduk di bangku Sekolah Dasar ( SD) sudah mengenal musik dan lagu dari Koes Plus, sampai sekarang usia yang sudah 68 tahun masih rutin mengikuti komunitas pencinta Koes Plus diberbagai kota di Jawa Timur
"Waduh mas, saya waktu kecil ini rela jual ayam saya untuk menyaksikan jika group Koesplus kalau tampil di sekitar Kabupaten Lamongan. Saya saat masih kuliah di Jember dulu sampai sarung saya tak jual demi untuk bisa membeli tiket masuk melihat pagelaran Koesplus tampil. " ungkapnya .
Editor : Prayudianto