Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Oleng Usai Tabrak Pejalan Kaki di Tuban, Pemuda Tewas Terjepit di Kolong Avanza
Advertisement . Scroll to see content

Miris! Hidup Serba Kekurangan, Keluarga Tukang Becak di Tuban Justru Masuk Desil 6

Senin, 14 September 2026 | 13:48 WIB
  • author Vian
Miris! Hidup Serba Kekurangan, Keluarga Tukang Becak di Tuban Justru Masuk Desil 6
Rusmiati, saat di depan rumahnya yang dibangun oleh bantuian pemerintah.

TUBAN, iNewsTuban.id - Nasib miris dialami sebuah keluarga di Kabupaten Tuban, Jawa Timur, di tengah keterbatasan ekonomi, mereka hanya mengandalkan penghasilan sang suami yang sehari-hari bekerja sebagai tukang becak.

Namun, saat mengecek data bantuan social, keluarga ini justru tercatat dalam desil 6. Kondisi tersebut membuat mereka khawatir, karena status data itu berdampak pada akses mereka terhadap sejumlah bantuan pemerintah.
‎
‎Beginilah potret pilu rumah keluarga Rusmiati, warga Desa Pongpongan, Kecamatan Merakurak, Kabupaten Tuban.
‎
Rumah berukuran 3x6 meter persegi ini bukan kekayaan pribadi, melainkan bantuan rumah tidak layak huni atau rtlh dari pemerintah agar mereka bisa terhindar dari hujan dan panas.

Di dalam ruangan sempit dengan satu kamar dan satu kamar mandi ini, Rusmiati harus bertahan hidup bersama suaminya Sukri (64), serta anaknya yang masih berusia 11 tahun.
‎
Dengan fisik yang mulai renta, Sukri hanya bisa menawarkan jasa sebagai tukang becak, dengan penghasilan tak pasti, yakni 30 hingga 50 ribu rupiah per hari.

Uang yang tak banyak itupun sering tak cukup hanya untuk membeli beras dan biaya sekolah anaknya. Rusmiati sendiri hanya bisa pasrah menjadi ibu rumah tangga sambil merawat beberapa ekor ayam di pekarangan.

Mereka tidak memiliki aset dengan nilai jual sama sekali, tidak memiliki sawah, apalagi hewan ternak besar seperti sapi. Untuk makan sehari-hari pun mereka harus memutar otak kencang.

Harapan mereka untuk mendapatkan uluran tangan pemerintah kini sirna, setelah memeriksa status keluarga kecil ini justru masuk dalam kategori desil 6, yang berarti dianggap keluarga mampu dan kaya. Status ini seakan menutup pintu bantuan sosial bagi mereka.
‎
“desil 6. saya rumah tangga, mas. terus rayat kula niku becak. becak nggih mboten mesti angsal, kadang nggih angsal, kadang nggih angsal sedasa rp10.000  bantuan dari desa, mas. kadang nggih angsal sedasa, kadang nggih angsal kalih dasa, ya allah, mas, nggih kaget ta, mas. wong no... mantun angsal nah terus kula cek desile kok 6, nggih kaget kula,” ungkap Rusmiati dalam bahasa Jawa.
‎‎
‎Pihak Desa Pongpongan melalui Kasi Kesra Kiswanto membenarkan adanya fenomena naiknya golongan desil sejumlah warga, yang membuat mereka tercoreng dari daftar penerima bantuan.
‎
Kini, keluarga Rusmiati hanya bisa berharap agar pemerintah memperbaiki data tersebut, sehingga bantuan dapat kembali mengalir ke perut-perut yang membutuhkan.

Editor: Prayudianto

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut