Misteri 3 Makam di Perkampungan Kompleks Keraton Solo

Sinta Risya
Keberadaan tiga makam di kompleks Keraton Kasunanan, tepatnya di kampung Gabuhan, Baluwarti, Pasar Kliwon, Solo. (Bramantyo)

Salah satu putri Pakubuwono XII yang juga Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA) GKR Wandansari yang akrab disapa Gusti Moeng mengatakan bila ketiga makam tersebut bukan dari keturunan Keraton Kasunanan.

"Saya tidak tahu siapa dimakamkan di situ. Tapi yang pasti, tiga makam itu bukan berasal dari kalangan kerabat Keraton atau keturunan Keraton," kata Gusti Moeng belum lama ini.

Menurutnya, dari cerita orang terdahulu, pada jaman dahulu, daerah tersebut ada sebuah kali yang bernama Kali Larangan. Dan tak jauh di mana ketiga makam itu berada, dulunya ada sebuah pintu air.

"Di dekat ketiga makam itu dulunya ada pintu air. Karena di situ dulunya ada sebuah kali (sungai) yang diberi nama Kali Larangan," ujarnya.

Diberi nama kali itu Kali Larangan, ungkap Gusti Moeng, karena memang kali itu sengaja dibuat oleh pihak Keraton untuk mengambil air dari Cokrotulung. Dan pintu air tersebut berfungsi untuk mengairi air masuk ke dalam Keraton. 

"Karena air itu dipakai oleh Keraton, maka warga sekitar tak ada yang berani memakai air tersebut. Karena terlarang mengambil air dari kali itu, maka daerah tersebut sampai sekarang diberi nama Kali Larangan," ujarnya.

Sedangkan ketiga makam tersebut adalah makam tiga orang anak yang meninggal karena terseret arus kali yang kemungkinan terjadi saat pintu air dibuka.

"Makam itu berisi tiga orang anak yang usianya masih kecil. Kemungkinan ketiganya hanyut saat pintu kali dibuka. Dan oleh warga sekitar, ketiganya di makamnya di daerah tersebut," ujarnya.

Karena memang, dahulunya, daerah di mana ketiga makam itu berada, masih sangat sepi. Dan oleh pihak Keraton, daerah itu dijadikan tempat tinggal untuk para pejabat Keraton yang ikut pindah ke Desa Sala dari Kartasura.

"Daerah itu memang dipakai sama Keraton sebagai tempat tinggal para pejabat Keraton Kartasura yang ikut pindah ke desa Sala. Tapi sayangnya seiring perjalanan waktu, rumah-rumah di daerah itu banyak diperjual belikan. Meskipun sebenarnya statusnya hanya hak pakai saja," ungkapnya.

Pihak Keraton, kata Gusti Moeng, tak punya rencana memindahkan ketiga makam tersebut. Karena, ketiga makam itu sudah ada terlebih dahulu sebelum adannya permukiman.

"Loh kenapa dipindah. Makam itu ada terlebih dahulu sebelum pemukiman. Jadi biarkan saja ada di situ. Di daerah Baluwarti itu juga ada makam Ki Gede Sala," ujarnya.

 

Editor : Prayudianto

Sebelumnya

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network