Setelah dibersihkan selama berbulan bulan, goa ini kemudian dibangun menjadi masjid dan pondok pesantren secara bertahap hingga menjadi seperti sekarang.
Meski demikian, saat musim penghujan masjid ini terkadang tidak digunakan untuk kegiatan ibadah. Hal ini karena adanya resapan air dari permukaan tanah yang membuat bagian dalam goa menjadi basah.
Pengunjung yang datang pun tidak hanya dari Tuban dan sekitarnya. Namun juga dari berbagai daerah di Indonesia, seperti Jawa Barat, Banten, Madura, hingga Sumatera.
“dulunya, sebelum ditemukan ini, dulu ada tempat sampah. nah, tempat sampah ini sama abah yai dibersihkan sampahnya selama 18 bulan. lalu sampah bersih, baru abah yai membangun pondok pesantren perut bumi, masjid bawah tanah, julukannya masjid puser bumi. ramainya pengunjung itu kalau full satu bulan biasanya di bulan muharram. itu pas satu bulan ee fullramainya. nah, kalau di hari-hari biasa itu sabtu sama minggu itu jam-jam ramai, itu jam-jam .paling kalau ndak,” kata Ustad Ali, Pengurus Masjid Perut Bumi.
Menariknya, untuk masuk ke kawasan ini tidak dipungut biaya tiket. Pengunjung hanya perlu membayar parkir kendaraan dan mengisi kotak amal seikhlasnya.
Editor : Prayudianto
Artikel Terkait
