Misteri 3 Makam di Perkampungan Kompleks Keraton Solo

Sinta Risya
.
Minggu, 03 Juli 2022 | 11:53 WIB
Keberadaan tiga makam di kompleks Keraton Kasunanan, tepatnya di kampung Gabuhan, Baluwarti, Pasar Kliwon, Solo. (Bramantyo)

SOLO, Tuban.iNews.id – Warga di kompleks Keraton Kasunanan (Keraton Solo), tepatnya di kampung Gabuhan, Baluwarti, Pasar Kliwon, Kota Solo, tentu tak asing dengan keberadaan tiga makam tersebut. Namun mereka juga merasa heran mengapa di tengah kampung, tepatnya di pertigaan jalan ada tiga makam.

Menurut warga setempat, tiga makam ini sudah ada jauh sebelum lingkungan tersebut dipadati permukiman warga. Dengan kata lain, tiga buah makam itu ditaksir usianya sudah ratusan tahun.

Lantas sebenarnya siapa yang dimakamkan di tempat tersebut? Dan mengapa tidak dipindahkan? Bahkan pihak Keraton sendiri tidak berani memindahkan tiga buah makam tersebut.

Menurut salah satu warga setempat bernama Sulastri (73) konon dari cerita para leluhurnya, makam tersebut adalah makam bayi. Namun dari mana asal ketiga bayi tersebut tidak ada yang mengetahuinya. Dan ketiganya terseret aliran kali Larangan.

"Dulu jauh sebelum daerah sini padat penduduk, di balik tembok Keraton itu dulunya ada sebuah kali yang namannya Kali Larangan," kata Sulastri belum lama ini.

Kemudian, oleh warga yang kebetulan menemukan, akhirnya ketiganya dimakamkan di wilayah Gabuhan, yang belakangan hari ramai menjadi perkampungan warga. Sehingga saat ini tiga makam itu tetap berada tepat di pertigaan jalan.

"Dari cerita turun temurun nama tiga bayi yang ada di makam itu adalah Nggoro Kasih, Den Bagus Kintir (hanyut) dan Mbok Roro Setu," ujar Sulastri (70).

Dia sendiri tak tahu persis berapa usia makam tersebut. Namun kemungkinan, usia makam itu sudah lebih dari 100 tahun. Sebelumnya ada upaya untuk memindahkan makam tersebut.

Namun salah satu warga yang dituakan mendapatkan per lambang jika keberadaan tiga makam itu tidak mau dipindahkan. Pesan itu kembali datang pada ayah Sulastri. 

"Saat itu bapak diberi sasmita (pertanda) dalam bentuk suara yang mengatakan silakan dipindah tapi aku gak tanggung jawab," katanya. Khawatir terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan, hingga saat ini tidak ada yang berani memindahkan lokasi makam. 

Hal aneh juga terjadi, jauh sebelum dibangun dengan diberikan tanda berupa kijing, makam tersebut hanya berupa tanah saja.

Lokasi makam seringkali dilewati pejalan kaki dan kendaraan bermotor. Hingga pada suatu ketika, ada suara yang datang kepada ayah Sulastri yang meminta agar diberikan tanda di makam tersebut. 

"Suatu malam, bapak didatangi seseorang yang meminta agar makam diberikan tanda. Omahku kok diidak-idak wong. Omahku ki mulyakno. (Rumahku diijak-injak. Tolong dibangun)," ungkap Sulastri mengingat kembali cerita sang ayah.  

Pernah ada kejadian sebelum di bangun ada pohon talok, kemudian ada yang mencoba memotong pohon talok yang ada di dekat makam, akhirnya yang memotong malah dapat memolo (bencana).

Menurutnya, sering kali ada penampakan, namun anehnya justru bukan warga sekitar. Namun orang yang kebetulan lewat kawasan tersebut. sering kali melihat penampakan orang tinggi besar.      

"Banyak orang yang bukan warga sini ketakutan melihat keberadaan sosok tinggi besar dan hitam," ujarnya.

Halaman : 1 2
Bagikan Artikel Ini