Launching Buku 'Nahdlatul Ulama Era Digital' Nono Warnono : Menulis Tradisi Para Ulama Intelektual.
Bojonegoro, iNewsTuban.id - Launching buku berjudul ‘Nahdlatul Ulama Era Digital : Kiprah PC NU Bojonegoro dan MWC NU Boureno dalam Perspektif Sejarah” karya Nono Warnono menjadi gong dari rangkaian acara grand opening Pusat Oleh-oleh milik MWC NU Boureno.
Launcing buku yang diadakan di Aula Graha MWC NU Boureno, Sabtu ( 14-2-2026) itu selain menghadirkan sang penulis H.Suwarno,M.Pd yang lebih populer dengan nama Nono Warnono juga mengundang tiga narasumber Herry Abdoellah (Herry Abdi Gusti), Totok Martono dan Nanang Fahrudin
Heery Abdoellah membuka acara launching buku dengan membaca puisi berjudul ‘Meruwat Halaman Belakang’dengan penampulan aktraktif dan cukup menjiwai mampu menjadi penghangat diacara yang dihadiri sekitar 200 undangan. Secara singkat Heery yang juga sastrawan ini mengupas tentang biodata tentang Nono Warn ono dan tiga orang narasumber.

Buku Nahdlatul Ulama Era Digital menurut Nanang Fahrudin merupakan bagian dari menghimpun sejarah agar selalu otentik dan tidak hanya menjadi kisah tutur tinular yang kemudian terlupakan.
Owner penerbit Nun Tera ini juga mengupas tentang kekayaan budaya nusantara yang hanya menjadi cerita karena tidak didokumentgasikan atau dibukukan.
“kekayaan kebudayaan yang bagian dari kearifan lokal bisa ditulis dan didokumentasikan menjadi buku atau dalam berbagai platform digital. Dengan mengangkat tema lokalitas seperti tradisi benda atau piranti tempo dulu yang sekarang sudah langka, bisa menyelamatkan aset tersebut dari kepunahan,” ujar Nanang.
Sementara Totok Martono jurnalis iNewsTuban.id dan juga penulis, lebih mengupas tentang isi buku yang bergenre religi pembangun jiwa. Dirinya memberikan apresiasi karena dibutuhkan kesabaran, ketelatenan untuk penggalian data dan penulisan hingga lahirnya buku setebal 298 itu.
Ditambahkan Totok, Nono sendiri merupakan penulis multitalenta yang matang pengalaman hingga merajai penulisan berbahasa jawa semacam Cerkak, geguritan, cerita wayang, hingga cerita rakyat.

Tulisan opini, puisi dan cerpen juga bertebaran dimedia lokal dan nasional. Selain juga menulis puluhan buku berbahasa jawa dan Indonesia “Membaca tulisan Pak Nono sekaligus menimba banyak ilmu dan pengalaman hidupo yang mendalam,” ujar Totok yang telah melahirkan buku “Lelaki Mbeling yang disayang Tuhan’ dan ‘Gaspol dari Titik Nol’ itu.
Dalam launching buku terbarunya ini, Nono Warnono mengungkapkan dituliskan dalam waktu setahun. Dalam riset penggalian data dirinya mengaku banyak dibantu oleh pengurus LTN MWC NU Boureno.
“Banyak narasumber yang harus didatangi untuk mendapatkan verifikasi dan validitas data. Selain itu tentu juga harus mencari refrensi dari buku-buku dan sumber lainnya agar mkenjadi bacaan yang bernilai bagi generasi sekarang dan masa depan,” ujar Nono yang baru menyambut kelahiran cucu pertamanya itu.
Ditambahkan Nono menulis sendiri merupakan tradisi para ulama intelektual. Semua cerita akan hilang tapi karya akan selalu dibincang sepanjang masa. Menulis adalah merekam jejak keabadian.
Dalam buku tersaebut , disebutkan para tokoh sekaligus ketua MWC NU Boureno. Yakni Mbah Kholil Boureno, KH Anwar Jasri (1963-1974) Habib Zen Al-Jupri, KH Abdul Wahid Basyar (1974-1993) Kiai Abdullah, Kiai Mudjahid Malik (1993-1998), Kiai Syukri Gowok Lebaksari (1998-20034), Kiai Mohamad Syukri Sraturejo, KH Abu Darda’ KH Agoes Chamzah AN (2003-2018), Kiai Abd Rohman (2018-2023) Kiai Areinal Haq (2024-2029)
Kegiatan Launching buku dihadiri oleh Wakil Rais Syuriyah PCNU Bojoneogoro KH M Saifur Rochmah, Ketua Tanfidhiyah PCNUI Bojonegoro dr H.Kholid Ubed, Rais Syuriah MWC NU Boureno KH Ishomudin Naufal Aziz, Ketua Tanfidziyah MWC NU Boureno Kiai Arinal Haq, serta perwakilan dari Muslimat, Fatayat, Ansore dan lembaga-lembaga NU lainnya.

Editor : Prayudianto