“Banyak narasumber yang harus didatangi untuk mendapatkan verifikasi dan validitas data. Selain itu tentu juga harus mencari refrensi dari buku-buku dan sumber lainnya agar mkenjadi bacaan yang bernilai bagi generasi sekarang dan masa depan,” ujar Nono yang baru menyambut kelahiran cucu pertamanya itu.
Ditambahkan Nono menulis sendiri merupakan tradisi para ulama intelektual. Semua cerita akan hilang tapi karya akan selalu dibincang sepanjang masa. Menulis adalah merekam jejak keabadian.
Dalam buku tersaebut , disebutkan para tokoh sekaligus ketua MWC NU Boureno. Yakni Mbah Kholil Boureno, KH Anwar Jasri (1963-1974) Habib Zen Al-Jupri, KH Abdul Wahid Basyar (1974-1993) Kiai Abdullah, Kiai Mudjahid Malik (1993-1998), Kiai Syukri Gowok Lebaksari (1998-20034), Kiai Mohamad Syukri Sraturejo, KH Abu Darda’ KH Agoes Chamzah AN (2003-2018), Kiai Abd Rohman (2018-2023) Kiai Areinal Haq (2024-2029)
Kegiatan Launching buku dihadiri oleh Wakil Rais Syuriyah PCNU Bojoneogoro KH M Saifur Rochmah, Ketua Tanfidhiyah PCNUI Bojonegoro dr H.Kholid Ubed, Rais Syuriah MWC NU Boureno KH Ishomudin Naufal Aziz, Ketua Tanfidziyah MWC NU Boureno Kiai Arinal Haq, serta perwakilan dari Muslimat, Fatayat, Ansore dan lembaga-lembaga NU lainnya.
Foto bersama penulis, narasumber dan pengurus MWC NU Boureno (Foto : Totok Martono)
Editor : Prayudianto
Artikel Terkait
