Soundtoloyo, Sebuah Pertunjukan Seni Kolaborasi Budaya Jepang – Indonesia
Tak kalah menarik datang penampilan dari Hewodn, musisi lokal dari Rengel, Tuban. Hewodn membawakan sebuah refleksi doa dan rasa hormat kepada laut sebagai sumber kehidupan, dituangkan dalam sebuah instrumen musik yang dihasilkan dari alat musik Noise Box dan Horror Box.
Alat musik tersebut ia gagas dari besi-besi bekas pakai yang didaur ulang. Mereka bereksperimen memindahkan keindahan suara laut dan keanekaragaman hayati melalui alat musik.
Alunan musiknya dibuat menjadi sebuah munajat agar laut tetap memberikan keberkahan pada umat manusia. Karya ini ia agungkan dengan judul “Dongo Kanggo Segoro” atau Do’a Untuk Laut.

Tak hanya Hawodn, musisi instrumental lain seperti InsyaAllah Noise x Babiteng dan Sandaria juga turut meramaikan gelaran Soundtoloyo ini. Menutup tahun 2025, pertunjukan seni ini diharapkan dapat menginspirasi belantara musik dan kesenian di Kota Tuban.
Soundtoloyo ditampilkan dengan apik melalui kolaborasi Prewangan dan Shankara Institute, sebuah wadah kreatif bagi komunitas dan pemuda dari Desa Kinanti, Kecamatan Tambakboyo. Shankara Institute berangkat dari gerakan pemuda yang mendedikasikan diri mereka untuk lingkungan dan pendidikan di Tuban.
“Kami ingin memberikan manfaat dan hadir untuk masyarakat. Dengan berbagai latar belakang pengalaman dan pendidikan, kami berharap untuk dapat terus berkolaborasi dengan berbagai komunitas dan organisasi,” tutur Zulham Fahri, pendiri Shankara Insititute.
Fahri menambahkan, Shankara Institute juga terbuka bagi masyarakat yang ingin berbagi pengalaman dari berbagai bidang lainnya, termasuk seni dan budaya.
Editor : Prayudianto