Soundtoloyo, Sebuah Pertunjukan Seni Kolaborasi Budaya Jepang – Indonesia
TUBAN, iNewsTuban.id - Di suatu sudut Kota Tuban, tepatnya Desa Kinanti, Kecamatan Tambakboyo, perayaan tahun baru 2026 dikemas berbeda dengan sebuah pertunjukan seni teatrikal yang dipadukan dengan seni musik berbasis alat musik yang mereka gagas sendiri.
Menolak jebakan selebrasi dalam batasan riuh tiupan terompet dan letupan kembang api, Pemuda Tambakboyo mengusung kolaborasi Budaya Jepang dan Indonesia dalam satu wadah, yakni Soundtoloyo oleh Prewangan.
Prewangan berdiri sebagai wadah untuk mengembangkan seni, sains, dan teknologi berbasis komunitas yang terbuka dan kolaboratif.
Hadir dalam pertunjukan Soundtoloyo, berbagai musisi dan seniman seperti Sakana-Kani, Kona Eguchi, Insyaallah Noise x Babiteng, Sandaria dan Hewodn menampilkan karya eksperimental di Shankara Tuban.
Pertunjukan teatrikal di Shankara Tuban dimulai dengan penampilan Sakana-Kani, sebuah kolaborasi Jepang – Indonesia yang menyajikan perpaduan musik eksperimental dengan ritual minum teh dari Jepang (Chanoyu Matcha) dengan ekspresi tradisional Indonesia.

Performa ini dibawakan oleh Toyol Dolanan Nuklir (Tuban, Indonesia) dan Yukari Ono (Kyoto, Jepang).
Toyol mengenakan perpaduan kostum dari pakaian tradisional Indonesia seperti Udeng yang biasa digunakan oleh Suku Tengger Bromo, dan baju dari Toraja. Yukari mengenakan Kimono, pakaian tradisional Jepang.
Dibawakan dengan ritual upacara teh dan nyanyian, alat musik yang digunakan Toyol merupakan alat musik buatan sendiri yang terinspirasi dari alat musik Biwa (Jepang) dan Gambus.
Editor : Prayudianto