Tradisi Bubur Suro Sunan Bonang, Warisan Ratusan Tahun yang Tetap Hidup di Bulan Suci Ramadhan
Tradisi berbagi bubur ini bertujuan menyediakan takjil bagi musafir dan warga selama bulan suci Ramadan. Kegiatan ini telah dilaksanakan secara turun-temurun sejak ratusan tahun lalu di daerah dengan julukan kota seribu goa tersebut.
“saat bubur sunan bonang itu istilahnya dimulai tahun 1937. yang membuat itu keluarga al-hamid orang dari jakarta, diserahkan kepada orang tuban untuk melaksanakan bubur tiap-tiap bulan ramadan. terus sepengalaman saya yang dibubur itu istilahnya berasnya sampai satu hari 12,5 kg atau 13 kg satu hari. itu dibagikan pada keluarga yang mau atau yang mau mengambil istilahnya. enggak, enggak peduli, enggak peduli siapa yang mau. bahan-bahannya itu istilahnya pakai bumbu kebuli. istilahnya gitu, pakai bumbu kebuli. rasanya seperti kebuli kalau pakai nasi, tapi kalau bubur kan lain karena airnya kan banyak. hanya bulan ramadan ya.dimulai sekitar jam 11 kalau dimulai.wah ndak bisa, ndak tahu. sehabisnya itu pokoknya,” ujar Lazim, peracik Bubur Suro.

Hingga kini, tradisi itu tetap terjaga dengan baik. Tak hanya untuk warga sekitar, Bubur Suro juga dibagikan kepada para musafir dan peziarah yang singgah di Makam Sunan Bonang secara cuma-cuma.
Tradisi ini bukan sekadar membagikan makanan, namun juga menjaga warisan nilai gotong royong dan kesederhanaan yang telah hidup ratusan tahun di bumi Ronggolawe Tuban.

Editor : Prayudianto