Tradisi Ramadan, Ratusan Warga Antre Bubur Mudhor Gratis, Uniknya yang Memasak Kaum Laki-laki
“sedang antre bubur, pak. bubur mundar. sering, setiap tahun antre di sini. kalau rasanya itu memang ada rempah-rempah di sini, pak. jadi untuk kesehatan sangat baik. biasanya makan satu piring sudah kenyang daripada nasi. tadi mulai dari jam setengah lima kurang... jam empat, pak. jam empat sudah antre. ya memang tradisinya begini, antrean orangnya banyak, pak.iya, sudah biasa begini. tiap hari. rumahnya perbon.iya, sama keluarga. berbagi sama keluarga,” ujar Ahmad Basori, pemburu Bubur Mudhor.
Tradisi memasak Bubur Mudhor telah menjadi agenda rutin setiap ramadan sebagai bentuk kepedulian sosial sekaligus mempererat kebersamaan warga.
Persiapan bahan dilakukan oleh para ibu-ibu yang menyiapkan beras, santan, serta bumbu-bumbu khas. Setelah siap, bahan dibawa ke masjid untuk dimasak bersama para relawan pria yang bertugas mengaduk bubur hingga matang sempurna.

“dulu itu kalau bubur ini diolah itu sebagian dikirim ke mushola-mushola atau masjid-masjid sekitar sunan bonang, dulu ya. tapi kadang-kadang buat acara sekarang ya... masih ada yang gitu, cuma kebanyakan orang-orang dari luar masjid itu datang sendiri langsung ke masjid. jadi begitu kira-kira prosesnya pembuatan bubur suro (mudho), alhamdulillah masih tetap berjalan.bulan ramadan saja lainnya enggak ada,” ungkap Habib Agil Al Bunumay, Takmir Masjid Mudhor.
Bubur Mudhor bukan sekadar hidangan berbuka puasa. Lebih dari itu, tradisi ini menjadi simbol kebersamaan, gotong royong dan semangat berbagi yang terus terjaga di tengah masyarakat tuban setiap datangnya bulan suci Ramadan.

Editor : Prayudianto